Oleh Rasmian, S.Pd., M.Pd.
Pengawas Sekolah Provinsi Jawa Timur
Email: riasmian71@gmail.com
Bulan Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar di berbagai penjuru, dan tradisi sahur serta berbuka menjadi perekat kebersamaan. Namun di balik kekhidmatan itu, ada realitas yang perlu kita akui dengan jujur—terutama dalam dunia pendidikan.
Di sekolah-sekolah, tidak sedikit guru yang mengeluhkan turunnya semangat belajar peserta didik selama Ramadhan. Anak-anak datang dengan wajah mengantuk, konsentrasi menurun, bahkan ada yang menjadikan puasa sebagai alasan untuk tidak aktif di kelas. Lebih ironis lagi, sebagian justru tidak berpuasa tetapi tetap menunjukkan kemalasan belajar. Fenomena ini patut menjadi bahan refleksi bersama.
Tradisi ngabuburit yang semestinya menjadi momen menunggu berbuka dengan kegiatan positif, sering kali berubah menjadi ajang keluyuran tanpa makna. Anak-anak berkumpul di jalan, bermain hingga larut, bahkan sebagian hanya mengikuti arus tanpa tujuan jelas. Lebih memprihatinkan, ada yang ikut membangunkan orang untuk sahur dengan penuh semangat, tetapi ia sendiri tidak berpuasa keesokan harinya. Simbol dirayakan, tetapi esensi diabaikan.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan sosial: sebagian yang mengaku Muslim tidak berpuasa namun justru makan secara terbuka di tempat umum tanpa mempertimbangkan sensitivitas lingkungan. Ini bukan soal menghakimi, melainkan soal etika sosial dan pendidikan karakter. Ramadhan seharusnya mengajarkan empati dan penghormatan terhadap ruang publik.
Ramadhan semestinya justru menjadi momentum peningkatan kualitas belajar. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa bulan suci bukan penghalang produktivitas intelektual. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW—perintah membaca—turun pada bulan Ramadhan. Spirit literasi itu menjadi fondasi lahirnya generasi pembelajar sepanjang zaman.
Kita mengenal Ibnu Sina dengan karya monumentalnya Al-Qanun fi al-Thibb (The Canon of Medicine) yang berabad-abad menjadi rujukan dunia kedokteran. Kita mengenal Al-Ghazali dengan karya agungnya Ihya Ulumuddin yang ditulis melalui proses riyadhah dan disiplin spiritual yang kuat. Kita juga mengenal Ibnu Khaldun dengan Muqaddimah-nya, karya monumental dalam bidang historiografi dan sosiologi yang lahir dari kedalaman refleksi dan tradisi intelektual Islam. Bahkan banyak peperangan penting dalam sejarah Islam, seperti Perang Badar dan Fathu Makkah, terjadi di bulan Ramadhan—menunjukkan bahwa bulan ini identik dengan keteguhan, bukan kelemahan.
Tokoh-tokoh tersebut membuktikan bahwa puasa tidak melemahkan daya pikir, justru menguatkan fokus dan kejernihan batin. Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri yang, jika dimaknai dengan benar, dapat meningkatkan kualitas belajar dan produktivitas.
Dalam konteks pendidikan Indonesia hari ini, kita perlu menata ulang cara pandang terhadap Ramadhan. Jangan sampai ia dipersepsi sebagai bulan “kering aktivitas akademik”. Sekolah dapat merancang pembelajaran yang lebih reflektif, memperkuat literasi, proyek sosial, atau penulisan jurnal harian yang melatih kesadaran diri siswa. Orang tua pun perlu membimbing anak agar memahami bahwa puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan latihan disiplin.
Sebagai pengawas sekolah, saya meyakini bahwa problem utama bukan pada Ramadhannya, tetapi pada cara kita membingkainya. Jika Ramadhan hanya dipahami sebagai rutinitas tahunan tanpa internalisasi nilai, maka yang tersisa hanyalah euforia. Namun jika ia dijadikan ruang pembentukan karakter dan penguatan budaya belajar, maka pendidikan kita akan memperoleh energi moral yang luar biasa.
Ramadhan mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari niat yang tulus dan konsistensi dalam kebaikan. Pendidikan Indonesia pun membutuhkan semangat yang sama. Bukan sekadar mengejar target kurikulum, tetapi menumbuhkan generasi yang berilmu, berintegritas, dan berempati.
Bulan suci ini seharusnya menjadi titik tolak untuk memperbaiki cara kita belajar dan mendidik. Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya terlihat dari angka-angka statistik, melainkan dari karakter yang tumbuh dalam diri anak-anak kita—karakter yang ditempa oleh disiplin, refleksi, dan kesadaran sebagaimana diajarkan Ramadhan.
